My Blog

Tentang Keagungan Bulan Rajab yang Mulia

Posted by: Ummi on: Oktober 19, 2009

Surat Ali Imran :

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.

Yang dimaksud dengan ampunan, ialah amal-amal yang menyebabkan pengampunan Tuhan, seperti Islam, taubat, pelaksanaan ibadah dan lain-lain amal shaleh.

Diriwayatkan oleh Abdurrahman Ibnu Auf bahwa Rasulullah bersabda :
”Datang padaku malaikat Jibril dan berkata : Hai Muhammad! Tidak seorang membaca sekawat untukmu melainkan untuk dia dibacakan selawat oleh tujuh puluh ribu malaikat dan barangsiapa untuk dia malaikat membacakan selawat ia adalah ahli syurga”

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda :
”Takbir pertama dalam sembahyang yang dicapai oleh orang mu’min di belakang imam lebih baik baginya dari seribu haji dan umroh, memperoleh pahala seperti gunung ”Uhud” kepada orang-orang miskin, tercatat baginya ibadah setahun untuk tiap rakaat, diberinya oleh Allah dua kebebasan, kebebasan dari neraka dan kebebasan dari sifat munafiq dan tidak keluar dari dunia kecuali sudah melihat tempatnya di syurga serta akan masuk syurga tanpa melalui hisab”.

Terdapat khilaf di antara ahli tafsir tentang batas takbir pertama itu. Sebagian pendapat bahwa batasnya sampai selesainya imam membaca fatehah dan sebagian berpendapat sampai imam memulai pembacaan fatehah. (Majalisul Anwar).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :
”Barangsiapa bangun malam untuk ibadah pada malam pertama dari bulan Rajab tidak akan mati hatinya jika hati-hati lain mati dan Allah menuangkan kebajikan di atas kepalanya, bebas dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya dan memberi syafaat kepada tujuh puluh ribu ahli ma’siat yang sudah patut masuk neraka. (Lubbul Albab).”

Diriwayatkan oleh Anas Bin Malik bahwa Rasulullah bersabda :
”Barangsiapa di suatu malam dari bulan Rajab bersembahyang duapuluh rakat dengan membaca tiap-tiap rakaat surat Al Fatehah dan Surat Al Ikhlas dan bersalam sepuluh kali dilindungi oleh Allah dia dan keluarga serta anak-anaknya dari bala’ di dunia dan adzab di akhirat (Zubdah).”

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda :
”Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan Allah yang tuli. Barangsiapa dalam bulan itu berpuasa sehari dengan penuh iman dan ikhlas, patut memperoleh ridha Allah yang terbesar dan siapa berpuasa dua hari tidak dapat digambarkan oleh ahli langit dan bumi kemuliaan apa yang tersedia baginya di sisi Tuhan, dan barangsiapa berpuasa tiga hari diselamatkan dari segala bala’ di dunia dan adzab di akhirat dan dari penyakit gila, kusta, sopak dan dari fitnahnya Daijal, dan siapa berpuasa tujuh hari tertutup baginya tujuh pintu neraka dan siapa berpuasa delapan hari terbuka baginya delapan pintu di syurga dan siapa berpuasa sepuluh hari segala apa yang diminta dari Allah akan diberinya dan siapa berpuasa lima belas hari diampuni oleh Allah segala dosaya yang sudah lalu dan digantinya dengan kebajikan dan barangsiapa menambah akan ditambah pahalanya oleh Allah.”

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :
”Pada malam Mi’raj aku melihat sebuah sungai, airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dari es dan lebih harum dari kasturi. Bertanya aku pada Jibril : Bagi siapa sungai ini? ”Bagi orang yang membaca selawat untukmu dalam bulan Rajab”.”

Menurut cerita Mugatil r.a. bahwasanya di belakang gunung ”Gaf” terdapat bumi putih, tanahnya seperti perak, luasnya seluas duni tujuh kali, penuh dengan malaikat sehingga jika ada jarum jatuh akan jatuh di atas mereka, di tiap tangan malaikat bertuliskan : Laa ilaa ha illallahu. Muhammadan rasulullah. Malaikat-malaikat itu berkumpul mengelilingi gunung ”Gaf” tiap malam jum’at beristigfar dan berdoa sampai pagi, memohonkan selamat bagi ummat Muhammad dan berkata : Ya Tuhan kami! Kasihanilah dan jangan disiksa ummat Muhammad. Hai malaikatKu! Firman Tuhan, Demi KeperkasaanKu dan keagunganKu, Aku telah mengampuni mereka. (Majalisul-Abrar).

Dikatakan bahwa kata ”Rajab” terdiri dari tiga huruf : ”Ra” menunjukkan rahmat Tuhan”. ”Ja” menunjukkan dosa dan ma’siat hambaNya dan ”Ba” menunjukkan barakahnya Tuhan, seakan-akan Allah berfirman : Hai hambaku! Aku telah menempatkan dosa dan ma’siat di antara barakah dan rahmatKu, maka tidak akan dicatat lagi bagimu dosa ataupun ma’siat karena kehormatan bulan Rajab. (Majalisul-Abrar).

Diceritakan bahwa bulan Rajab sesudah berakhir naiklah ia ke langit dan ditanya oleh Tuhan : Apakah mereka menyintaimu dan menghormatimu? Lalu berkata si Rajab setelah Tuhan mengulangi pertanyaanNya kedua dan ketiga kali : Ya Tuhanku! Engkaulah penutup segala aib dan memerintahkan hambaMu menutup aib-aib sesamanya. RasulMu memberi julukan tuli padaku. Aku telah mendengar taat dan ibadah hamba-hambaMu dan tidak mendengar ma’siatnya. Kemudian Allah swt. berfirman : Engkau adalah bulanKu beraib dan hamba-hambaKu pula beraib. Aku telah terima mereka dengan segala aib-aibnya demi kehormatanmu sebagaimana Aku telah menerimamu dengan aibmu dan dengan satu penyesalan Aku mengampuni mereka dan tidak mencatat ma’siat-ma’siatnya.

Dikatakan bahwa bulan Rajab mendapat julukan TULI, karena dalam bulan itu para malaikat yang bertugas mencatat amal-amal manuia, hanya mencatat amal-amal kebajikan dan tidak mencatat kejahatan dan ma’siat berlainan dengan lain-lain bulan dimana kebajikan dan kejahatan dicatat bersama. Karena dalam bulan Rajab mereka tidak mendengar kejahatan atau ma’siat yang dicatat. (Misykatul-Anwar).

Bersabda Rasululah saw :
”Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulannya Allah, bulan Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.”

Menurut Abu Muhammad Alkhallal, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata :
”Puasa hari pertama dari bulan Rajab berarti tebusan dosa tiga tahun, hari kedua tebusan dosa dua tahun, dan hari ketiga tebusan dosa setahun, dan selanjutnya tiap hari ialah tebusan dosa sebulan. (Jami’ Saghir). ”

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah bersabda :
”Selain bulan Ramadhan tidak ada puasa kecuali dalam bulan Rajab dan Sya’ban. ”

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda :
”Sesungguhnya di syurga ada suatu sungai bernama ”Rajab”, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa berpuasa sehari dalam bulan Rajab akan diberi minum oleh Allah dari sungai itu.”

Kata ”Rajab” dalam bahasa Arab berarti ”Agung”. Diberikannya nama ”Rajab” bagi bulan itu, karena bangsa Arab menghormati dan mengagungkannya, sampai-sampai pintu Ka’bah dibuka oleh para petugasnya selama satu bulan penuh selama bulan Rajab, padahal di lain bulan hanya dibuka hari Senin dan Kamis dan berkata mereka : Bulan Rajab adalah bulannya Allah, Ka’bah rumah Allah dan hamba adalah hamba Allah, maka tidak dilarang hamba memasuki rumah Allah di dalam bulan Allah.

Dihikayatkan bahwa di Baitul Maqdis ada seorang perempuan ahli ibadah, jika tiba bulan Rajab, ia membaca surat ”Al-Ikhlas” saban hari dua belas kali dengan melepas pakaian suteranya dan mengenakan pakaian yang kasar-kasar. Pada suatu ketika dalam bulan Rajab, ia jatuh sakit dan berwasiat pada puteranya, apabila ia mati supaya dikubur bersama pakaian kasarnya, akan tetapi si anak bahkan membungkus mayat ibunya dengan pakaian halusnya sekedar riya’.

Syahdan, dalam mimpi si anak melihat ibunya seakan-akan marah sambil berkata padanya : Kenapa engkau tidak melaksanakan wasiatku? Tergugahlah si anak dari tidurnya dalam keadaan takut dan bergegas-gegas menggali kubur ibunya yang ternyata kosong tidak terdapat mayat di dalamnya. Dalam keadaan terheran-heran, menyesal, ia menangis tersedu-sedu dan seketika terdengar suara olehnya yang berkata : Tidaklah engkau tahu, bahwa siapa yang mengagung-agungkan bulan Rajab tidak akan kami tinggalkan sendirian di dalam kuburnya. (Zubdatul wai’dzin).

Diriwayatkan bahwa Sayidina Abubakar ra. berkata :
Jika sepertiga malam telah lewat pada hari Jum’at pertama dalam bulan Rajab, maka berkumpullah di Ka’bah semua malaikat yang berada di langit maupun di bumi dengan tiada ada yang ketinggalan. Di situ mereka dipandang oleh Allah dan mendengarkan firmanNya yang berbunyi : Hai malaikatKu! Mintalah sesukamu! Ya Tuhan Kami!, berkata para malaikat : ”Perminntaan kami, ialah bahwa Tuhan mengampuni orang-orang yang berpuasa di bulan Rajab”.”Aku telah mengampuni mereka” jawab Tuhan.

Menurut Riwayat Siti Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda :
”Semua orang lapar di hari kiamat, kecuali para nabi dan keluarganya serta orang-orang yang berpuasa bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Mereka tidak merasa lapar maupun dahaga. (Zubdatul Wa’idzin).

Dikhabarkan bahwa pada hari Qiamat terdengarlah suara yang berseru : Dimanakah mereka ahli Rajab (yang beribadah dan berpuasa di bulan Rajab)? Lalu keluar cahaya yang diikuti oleh Jibril dan Mika’il dan disusul oleh orang-orang ahli Rajab dan bersama-sama melewati Shirath secepat kilat yang menyambar. Bersujudlah mereka kemudian sebagai tanda syukur bahwa mereka telah lulus melewati sirath. ”Angkatlah kepalamu hari ini”,”Angkatlah kepalamu hari ini”, firman Tuhan, kamu telah melakukan sujud di dunia dalam bulanKu, berangkatlah ke tempat-tempatmu (syurga)! (Raunagul Majalis).

Dihikayatkan oleh Tsauban bahwa ia pada suatu ketika berjalan bersama Rasulullah saw. melalui suatu kuburan dimana Rasulullah berhenti sejenak dan menangis tersedu-sedu. Kenapa Rasulullah menangis? Tanya Tsauban, lalu bersabda Rasulullah saw. :
”Aku berdo’a untuk mereka yang sedang disiksa dalam kuburnya maka diringankanlah oleh Allah siksanya. Hai Tsauban!”

Coba mereka berpuasa satu hari dan tidak tidur satu malam dalam bulan Rajab, mereka tidak akan disiksa dalam kuburnya. Kemudian bertanya Tsauban : Adakah puasa satu hari dan ibadah satu malam dalam bulan Rajab mencegah siksaan kubur?

Rasulullah menjawab dan bersabda :
”Hai Tsauban! Demi Allah yang mengutus aku sebagai Nabi, tiada seorang muslim ataupun muslimah yang dengan ikhlas dan melulu untuk Allah berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab, melainkan baginya dicatat oleh Allah pahala ibadah satu tahun puasa di waktu siangnya dan ibadah di waktu malamnya. (Zubdatul Wa’idhin).”

Berkata Mawardi dalam kitabnya ”Al-Igna”.

Pada bulan Rajab dan Sya’ban memang dianjurkan dan dimustahabkan. Tetapi mengenai apa yang disebut sembahyang ”Ra gha’ib” tidak ada dasarnya dalam syariat, karena hadist-hadist yang diriwayatkan mengenai sembahyang itu adalah hadist-hadist maudhu’ (bikinan) walaupun banyak berpendapat dalam kitab. Sebab soal-soal agama dan penentuan pahala atau dosa datangnya dari pembawa syari’at, sedangkan apa yang disebut sembahyang ”Ra gha’ib” tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maupun oleh sahabat-sahabatnya bahkan tidak ada anjuran untuk melakukan itu. Maka bagi orang yang beragama dan tunguk kepada agamanya harus berhati-hati dan tidak turut melakukan apa yang orang banyak dalam zaman ini melakukannya seperti sembahyang ”Ra gha’ib” malam Jum’at pertama bulan Rajab yang tidak ada dasarnya dalam agama, bahkan dapat diartikan melakukan perbuatan ”bid’ah” yang dapat mendatangkan dosa dan siksa, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Rasulullah yang berbunyi :
”Hati-hatilah kamu dari soal-soal baru yang diada-adakan (dalam agama), karena tiap-tiap soal baru adalah bid’ah, dan tiap-tiap bid’ah adalah kesesatan dan tiap-tiap kesesatan adalah di neraka. Dan sejelek-jeleknya soal adalah soal-soal baru (yang diada-adakan).”

Kedua hadist tersebut di atas menunjukkan bahwa sembahyang ”Ra gha’ib” adalah bid’ah dan kesesatan karena tidak dikenal di masa sahabat dan tabi’in maupun di masa imam-imam ahli ijtihad dan baru dikenal sesudah empat ratus tahun hijriah, sehingga tidak dikenal oleh ulama-ulama terdahulu dan oleh ulama-ulama yang datang belakangan bahkan dicela dan dinyatakan ”bid’ah” yang mengandung kemungkaran, Maka tinggalkanlah itu dan berpeganglah pada ra’at dan ibadah yang murni agar mencapai surga dan memperoleh derajat dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Diceritakan dalam kitab ”Majmaul Bahrain” bahwa Saiyidina Ali bin Abi Thalib r.a. telah melarang seorang yang ditemuinya pada hari raya ”id” di suatu tanah lapang yang hendak melaksanakan sembahyang sebelum waktunya, dan berkaa orang itu : Hai Amirul Mu’minin!Kenapa saya dilarang padahal saya tahu bahwa Allah tidak akan mengadzab orang karena sembahyang. Sayapun tahu, jawab Saiyidina Ali, bahwa Allah tidak akan memberi pahala atas suatu perbuatan yang tidak dilakukan atau dianjurkan oleh Rasulullah, sehingga dengan demikian sembahyangmu sia-sia belaka bahkan Tuhan mungkin mengadzabmu karena pelanggaranmu terhadap rasulnya. (Majalis Rumi).

Dikabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :
”Allah menciptakan wajah-wajah para bidadari dari empat warna : putih, hijau, kuning dan merah dan menciptakan badannya dari za’faran, misik, ambar dan kafur. Dari jari-jari kakinya sampai lututnya diciptakan dari za’faran, dari lutut sampai pusarnya dari dupa (misik), dari pusar sampai lehernya dari ambar dan dari leher sampai kepalanya dari kafur. Jika ia meludah, ludahnya menjadi dupa (misik) di dunia. Tertulis di atas dada masing-masing bidadari itu nama-nama suaminya di samping satu nama dari nama-nama Allah. Di antara kedua pundaknya selebar satu farsakh kira-kira satu mil. Di tiap tangan dari kedua tangannya sepuluh gelang dari emas dan di jari-jarinya sepuluh cincin dan di kakinya gelang-gelang dari permata dan mutiara. (Dagaigul-Akhbar).

(Kutipan Bacaan Muslim)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.